Maleo (Macrocephalon maleo) diklasifikasikan sebagai jenis Genting (Birdlife International,2001) dan merupakan salah satu species endemik paling terancam di Sulawesi. Paling istemewa dari burung ini adalah perilaku bertelurnya. Telurnya diletakkan didalam lubang di daerah yang memiliki panas bumi untuk daerah hutan atau di daerah pantai memanfaatkan pasir yang dipanaskan oleh sinar matahari. Kurang lebih 60 – 90 hari telur ditanam didalam tanah/pasir dengan suhu sekitar 30 – 350 Celcius. Dalam setahun Maleo menggunakan 2 – 3 bulan waktunya untuk bertelur dan 9 – 10 bulan digunakan untuk mencari makan di hutan-hutan primer. Dengan jumlah telur 8 – 12 butir per tahun dan untuk memproduksi 1 butir telur seekor maleo membutuhkan waktu 7 – 9 hari, (Deker.,1990).
Maleo dewasa mencari makan hanya dihutan rimba dari daerah pantai sampai ketinggian sekitar 1200 mdpl. Tetapi mereka dapat menyeberangi areal habitat yang rusak untuk mencapai lokasi peneluran. Tingkat kesetiaan induk maleo pada satu tempat bertelur dan pertukaran induk antara populasi-populasi maleo yang memanfaatkan lokasi yang berbeda (antara pantai dan lokasi pedalaman) masih belum diketahui. Namun Argeloo (1994) telah melaporkan, ditemukan satu induk yang ditandai sekitar 25 km dari lokasi menetasnya.
Baliho tentang konservasi burung maleo di Pelabuhan Kolonodale Morowali.
Kekayaan dan keunikan keanekaraaman hayati Cagar Alam Morowali, merupakan hal penting yang menjadi dasar penetapan kawasan ini sebagai kawasan pelestarian alam penting Sulawesi. Potensi keanekaragaman hayati Cagar Alam Morowali sampai saat ini belum terungkap secara baik dan menyeluruh. Saat ini tempat peneluran maleo (Nesting Ground) di CA Morowali belum banyak di survey (belum diketahui secara pasti). Dari hasil survey pendahulu terdapat kurang lebih 9 lokasi peneluran yang tersebar di kawasan ini


0 komentar:
Posting Komentar