Spiga

Sistem Tata Guna Lahan (Land Use Types)

1.Hutan Primer (“Pangale“) . Bagi masyarakat Tau Taa Wana hutan dipandang bukan saja sebagai ruang untuk mengekspresikan kebutuhan ekonomi semata, tetapi juga sebagai wahana untuk mengartikulasikan kebutuhan sosial budayanya. Mereka meyakini bahwa pada mulanya bumi ini hanya terdiri atas air (ue) atau lautan. Di atas lautan kemudian pue (tuhan) menghamparkan segenggam tanah yang kemudian berkembang menjadi daratan. Kemudian tuhan (pue) menancapkan dua batang kayu besar yaitu kaju keleri dan kaju paramba’a untuk mengikat tanah, sebelum akhirnya menurunkan manusia laki-laki (Mbala) dan perempuan (Ngga). Masyarakat Tao Taa juga mempercayai bahwa pohon-pohon besar (kaju), tanah (tana) dan air (ue) merupakan satu kesatuan yang saling terikat. Kesatuan inilah yang disebut dengan hutan (pangale). Hutan primer (pangale) merupakan habitat untuk vegetasi asli cagar alam Morowali seperti : kaju mansili (Metrosideros sp), kaju patuyuu (Gironierra subaequalis), kaju sengilu (Sarcotheca celebica), kaju kumea vatu (Manilkara fasciculata), jongi (Dillenia celebica dan Dillenia serrata), kumea randa ira (Palaquium maliliensis), Guu (Gymnostoma sumtrana), baang (Ficus sp) dan lain-lain. 2.Hutan Sekunder (“Yopo“) . Hutan Sekunder Muda (“Yopo Mangura“) Adalah bekas ladang yang telah mengalami suksesi menjadi hutan sekunder muda. Hutan Yopo mangura berumur berkisar antara 5-10 tahun yang mana hak penguasaannya secara individual masoh melekat pada pengelola dan pemanfaatan pertama. Hutan yopo mangura biasanya ditumbuhi oleh jenis-jenis pionir seperti Macaranga sp, Mallotus sp, Trema tomentosa, bunta (Ficus variegata), Homalanthus populneus, Grewia sp dan lain-lain. Hutan Sekunder Tua (“Yopo masia“) Adalah bekas ladang yang telah menjadi hutan lebat (pangale bose) melalui proses suksesi yang panjang. Hutan yopo ntua ini berumur berkisar lebih dari 10 tahun (rata-rata 25 tahun) , dimana hak penguasaan hutan ini melekat pada anggota komunitas lipu (dusun). Vegetasi yang tumbuh disini umumnya adalah berbagai jenis Ficus spp, Macaranga sp, Anthocephalus chinensis, Gymnostoma sumatrana, Casuarina equisetifolia, Sarcotheca celebica dan lain-lain. 3.Padang Alang-alang (“Junju Le“). Padang alang-alang (grassland) adalah salah satu tipe habitat yang sangat luas di Cagar Alam Morowali. Habitat tipe ini didominasi oleh alang-alang Imperata cylindrica (Poaceae) yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang berkembang biak dengan pesat melalui “achene“ yang mudah diterbangkan oleh angin serta memiliki sistem perakaran yang sangat komplek menyerupai stolon dan rhizome dan sulit untuk diberantas melalui pembakaran. Alang-alang memiliki karakteristik yang sama dengan berbagai jenis tumbuhan rumput-rumputan yang lain yang menyukai sinar matahari langsung dan kurang suka tumbuh apabila terdapat pohon pelindung. Luasnya padang alang-alang di Cagar alam Morowali diduga sangat berhubungan dengan pola pertanian masyarakat Tao Taa Wana yang menerapkan sistem “slash and burn“ dan berpindah satu daerah ke daerah yang lain. Dalam prakteknya lokasi baru yang kaya dengan pohon-pohon ditebang kemudian dibakar, kemudian barulah dilakukan penanaman tanaman terutama padi, ketela pohon ataupun jagung menggunakan alat tugal. Dalam perkembangannya lahan-lahan yang terbuka akan mudah terinvasi oleh alang-alang yang berkembang dengan cepat melalui alat reproduksinya yang mudah diterbangkan oleh angin. Karena masyarakat Tao Taa tidak memiliki peralatan pertanian untuk penyiangan berupa cangkul, traktor maka alang-alang tumbuh dengan pesat dan akhirnya mendominasi wilayah tersebut. Salah satu strategi dalam mengurangi semakin meluasnya padang alang-alang adalah melalui intensifikasi lahan, melalui penyiangan, penanaman cover crop dan penanaman pohon yang memiliki kanopi (tajuk) yang rindang sehingga alang-alang akan berkurang pertumbuhannya. 4.Kebun (“Navu“). 5.Bekas kebun (“Paka navu“) (Prof Ramadanil; Harianto; Chito; Noval)

0 komentar: